Jumat, 13 Juli 2012

HRGA KERANJANG TEMBAKAU MENCAPAI RP.150.000



Temanggung,



Tyo (32), petani tembakau asal Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Minggu kemarin  mengeluhkan mahalnya harga keranjang tembakau yang mencapai ratusan ribu rupiah. Berdasarkan pengalamannya harga baru akan naik menjelang panen raya bulan Agustus.Tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Juni-Juli harganya cuma Rp 60 - Rp 70 ribu per kepok (dua keranjang satu tangkup), namun  sekarang sudah mencapai Rp 150 ribu. Sejumlah pedagang keranjang tembakau di Terminal Parakan menuturkan, harga keranjang di tempatnya, bervariasi tergantung kualitas mulai Rp 100 ribu-Rp 200 ribu per kepok. Tingginya harga karena dia menyesuaikan harga kulak dari perajin.
     



Ada kecenderungan para petani langsung mengambil keranjang dari tempatnya para juragan (cukong), sehingga pedagang keranjang sepi pembeli. 
     



Ditengarai tengkulak besar jauh-jauh hari telah memesan keranjang dalam partai besar kepada beberapa perajin dengan harga murah. Namun, kemudian dijual ke petani dengan harga tinggi. Akibatnya, harga dipasaran sekarang juga ikut melambung tinggi.(HMs12/Edy Laks).

Ribuan Petani Tembakau akan Demo di Jakarta



TRIBUNNEWS.COM, TEMANGGUNG - Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung, Agus Setyawan mengatakan, ribuan petani asal Temanggung akan bergabung dengan rombongan petani dari Wonosobo, Kendal, Boyolali, Kudus, Jawa Timur, dan Jawa Barat di Jakarta untuk menolak RPP tembakau.
Agus menyebutkan, ada sekitar 100 bus dari Jawa Tengah untuk mengangkut petani berangkat ke Jakarta. Sedangkan di Temanggung, terdapat beberapa titik kumpul pemberangkatan, yakni Alun-Alun Temanggung, Parakan, Ngadirejo, dan Candiroto.
Menurutnya, penolakan terhadap RPP tembakau akan dilakukan dua hari di Jakarta. Pada hari pertama, Selasa (3/7/2012) aksi demontrasi akan berlangsung di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Hukum dan HAM, dan Kementerian Kesehatan.
Pada hari kedua, demonstrasi akan dilakukan di beberapa lembaga antitembakau, yaitu di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan di Indonesian Coroption Watch (ICW).
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Mukh Nur Huda

Ratusan Para Petani Tembakau Blokir Jalan Rasuna Said



Ribuan petani tembakau dari berbagai desa, Kamis (22/12/2011) sekitar pukul 10.00 mulai menutup jalur jalan pantura Jateng, tepatnya di pertigaan Unggup Unggup, Desa Wonotenggang, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nicolas Timothy
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ratusan petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonsesia (APTI) menggelar aksi demo di depan Kementerian Kesehatan, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2012).
Para petani menganggap RPP Tembakau akan mengancam mata pencaharian mereka sebagai petani.
"Kami ini takut lapar, makanya jangan sampai pertanian tembakau hilang akibat RPP Tembakau," kata Sekertaris APTI Jawa Tengah, Agus Setiawan di depan Kemenkes.
Pantauan Tribunnews.com, sekitar 300 petani tembakau menutup jalan Rasuna Said sambil membawa perangkat aksi seperti spanduk-spanduk yang isinya menolak diberlakukannya RPP Tembakau.
Akibatnya, kendaraan yang melintas di jalan Rasuna Said harus rela mengantre untuk masuk ke jalur busway sehingga kemacetan pun tak terelakkan.
Rencananya, ratusan petani tembakau akan menggelar aksi lagi di depan Kementerian Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra) usai berorasi di Kemenkes.
"Kami berencana melakukan orasi di Kemenkokesra setelah berorasi di sini (Kemenkes)," kata Agus Setiawan.

Sabtu, 24 Maret 2012

Profil Kabupaten Temanggung


Sejarah
Lambang daerah
Visi dan Misi
Sekilas Temanggung
Profil Kecamatan & Desa
Prestasi
Peta Kota Temanggung
Peta Kab. Temanggung
Bupati 1834-2013
Profil BUMD
Blog Desa/Kec./lainnya
Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Sundoro
KECAMATAN CANDIROTO
candirotoGEOGRAFI
Kecamatan Candiroto adalah salah satu dari 20 kecamatan di wilayah Kabupaten Temanggung, Jarak dari Kota Temanggung 28 Km dengan luas 5.994 Ha. Dengan rincian Lahan Sawah 1.195 Ha dan Bukan Lahan Sawah 4.799 Ha. Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung dalam pembagian wilayah Administrasi terbagi menjadi 14 Desa, 49 Dusun, 270 RT, 74 RW. dengan jumlah Kades 14, perangkat desa 131 dan anggota BPD 120.Kantor Kecamatan Candiroto

DEMOGRAFI
Berdasarkan Registrasi tahun 2010 Kecamatan Candiroto dengan jumlah penduduk 31.960 jiwa yang terdiri dari 15.903 laki-laki, 16.057 perempuan, kepadatan penduduk 533 per Km2. Angka kelahiran kasar (CBR) 4,29 per 1000 jiwa, Angka Kematian Kasar (CDR) 4,29 per 1000 jiwa, Jumlah rumah tangga pada tahun 2010 sebanyak 8.6489 rumah tangga dengan rata-rata penduduk per rumah tangga sebanyak 3-4 orang per rumah tangga. Jumlah penduduk berusia 5 tahun keatas yang menamatkan perguruan tinggi hanya 406 jiwa, tamat Akademi / sarjana muda sebesar 256 jiwa, tamat SLTA sederajat sebesar 2.498 jiwa, tamat SLTP sederajat 4.481 jiwa, tamat SD sederajat sebesar 13.743 jiwa, tidak / belum tamat SD sebesar 7.833 jiwa.
Jumlah penduduk menurut mata pencaharian masih didominasi oleh sektor pertanian yaitu 12.746 jiwa, yang bekerja pada sektor industri hanya 219 jiwa, sektor bangunan 362 jiwa, pedagang 1.703 jiwa, yang bekerja pada sektor angkutan sebesar 369 jiwa, Jasa 1.488 jiwa dan sektor lainnya 242 jiwa.

POTENSI
Tanaman yang dapat dikembangkan di Kecamatan Candiroto antara lain : Padi, Jagung. Untuk Tanaman sayuran antara lain : Bawang Putih, Lombok. Untuk Buah-buahan antara lain : Durian, Rambutan, Jambu Biji, Pisang. Tanaman Perkebunan antara lain : Kopi Arabika, Kopi Robusta, Cengkeh, Kelapa, Aren, Kakao, Kapulogo, Kemukus, Tembakau, Panili dan Melinjo. Peternakan antara lain : Sapi Potong, Kerbau, Kuda, Kambing, Domba, Kelinci, Ayam Buras, Ayam ras, Itik, Entok, Burung Puyuh, Angsa. Perikanan antara lain : Karper, Lele, Nila, Tawes, Gabus, Udang, Kodok.

PENDIDIKAN
Banyaknya Sekolah dan Murid tahun ajaran 2010/2011 SD Negeri 20 buah, murid laki-laki 1.324 orang perempuan 1.220 orang dengan jumlah guru 158 PNS dan 35 Non PNS, SD Swasta belum ada. Untuk SLTP Negeri 1 buah, murid laki-laki 296 orang perempuan 320 orang dengan jumlah guru 32 orang, SLTP Swasta 1 buah, murid laki-laki 56 orang perempuan 44 orang dengan jumlah guru 10 orang. Untuk SLTA Negeri 1 buah, murid laki-laki 229 orang perempuan 334 orang dengan jumlah guru 38 orang, SLTA Swasta 1 buah, murid laki-laki 78 orang perempuan 127 orang dengan jumlah guru 18 orang.

KESEHATAN
Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung dengan Jumlah Puskesmas 1 buah, Puskesmas Pembantu 3 buah, Puskesmas Keliling 1 buah, Polides 1 buah, PKD 8 buah.

WISATA
Di lembah sungai Bodri di tapal batas Kabupaten Temanggung – Kendal terdapat sebuah bukit terjal yang dibawahnya berlobang menganga dari bebatuan kapur dengan stalagtit dan stalagmit yang berpotensi sebagai ajang penelitian. Disana memang banyak kelelawar karena dulunya goa ini jarang dikunjungi kecuali yang ingin bertapa. Beberapa waktu lalu pengembangan obyek ini dirintis oleh Mahasiswa KKN dari Akademi Pariwisata Semarang. GOWA LAWA terletak di desa Lempuyang Kecamatan Candiroto, lokasinya mudah dijangkau, jaraknya sekitar 300 meter dari jalan raya Temanggung – Kendal. Ada tradisi unik masyarakat sebagai pendukung yakni tradisi ‘Lampet Dhawuhan’. Pada acara itu siapapun yang menjabat Kepala Desa harus berkumur air sungai kemudian berjalan di pematang sawah dan menyemburkan kumuran itu ke sawah tempat bertanam padi.
DESA DI KECAMATAN CANDIROTO 1. Desa Candiroto
2. Desa Lempuyang
3. Desa Canggal
4. Desa Kentengsari
5. Desa Ngabeyan
6. Desa Banter
7. Desa Krawitan
8. Desa Muntung
9. Desa Batursari
10 Desa Mento
11. Desa Muneng
12. Desa Plosogaden
13. Desa Sidoharjo
14. Desa Gunungpayung

http://www.temanggungkab.go.id/profil.php?mnid=29

Mengungkap Kembali Situs Liyangan


Tribunnews.com - Senin, 26 April 2010 04:50 WIB

Mengungkap Kembali Situs Liyangan - Situs_Liyangan_SINDORO.jpg
Situs Liyangan di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro













Oleh Heru Suyitno
Situs Liyangan ditemukan pada tahun 2008 berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain.

Situs Liyangan berada di atas permukiman warga Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Kabupaten Temanggung, Bekti Prijono, mengatakan, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta, diperkirakan situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno.

Dugaan bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu.

Bekti menyebutkan, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi.

Penemuan selanjutnya berupa sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang.

Temuan terakhir yang cukup spektakuler pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya.

Ia mengatakan, tim Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Hal ini berdasarkan pada lokasi yang dekat dengan temuan candi Hindu yang berada di sebelah barat pada jarak sekitar 50 meter.

"Ditemukannya profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi diperkirakan candi ini berasal dari abad sembilan Masehi. Diperkirakan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman," katanya.

Secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan  keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.

Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi.

Berdasar gambaran hasil survei penjajakan Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. Indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, dan situs "pertanian".

Kompleksitas karakter tersebut membawa pada pemikiran bahwa situs Liyangan adalah bekas perdusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa mengingat temuan ini satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah masa Mataram Kuno.

Batasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektare. Di area tersebut tersebar data arkeologi yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno. Mengingat sebagian situs terkubur lahar, sangat mungkin luasan situs lebih dari hasil survei.

Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu.

Data tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional. Untuk itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah.

Penggalian Situs

Sebagai upaya penyelamatan terhadap situs di kawasan penambangan pasir tersebut, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah akan melakukan penggalian situs.

Kepala BP3 Jawa Tengah Trihatmaji mengatakan, tim BP3 akan melakukan penggalian situs pada awal bulan Mei 2010 sebagai upaya penyelamatan benda bersejarah tersebut.

"Setelah tanah kita potong maka kelihatan secara konstruksi dan diketahui tanah lapisan budaya," katanya.

Ia menjelaskan, tanah lapisan budaya adalah lapisan diketahui ada aktivitas manusia masa lampau. Untuk itu kegiatan penambangan hanya boleh dilakukan di atas tanah lapisan budaya tersebut.

Untuk memudahan penelitian maka jarak sekitar 30 meter arah utara-selatan dan 20 meter arah barat-timur di lokasi situs temuan terakhir berupa sisa bangunan rumah tidak boleh ada penggalian pasir.

Trihatmaji mengatakan, harapan dengan kegiatan tersebut nanti dapat merekonstruksi peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada kawasan situs. Jika kegiatan itu tidak dilakukan dengan metode yang benar maka akan sulit mengungkap misteri yang ada.

"Kami telah melakukan pembicaraan dengan Kepala Desa Purbosari dan pemilik lahan penambangan untuk membuat rambu-rambu supaya areal situs bisa diselamatkan," katanya.

Ia mengatakan, di lokasi penambangan tersebut semula ditemukan situs yang diduga tempat pemujaan dan terakhir ditemukan bekas bangunan dari kayu dan bambu yang telah menjadi arang dan di bawahnya terdapat talud dari batu putih setinggi 2,5 meter dan terdapat saluran air.

"Dengan adanya temuan bangunan saluran air tersebut menandakan bahwa waktu itu sudah ada manajemen air. Melihat konstruksi kayu dengan garapan yang halus dan menggunakan atap dari ijuk menandakan bukan bangunan sembarangan," katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Kabupaten Temanggung, Bekti Prijono mengatakan, situs tersebut berada di lahan milik penduduk dan dimanfaatkan untuk diambil pasirnya, dikhawatirkan situs akan rusak jika tidak dilakukan upaya penyelamatan.

"Kami akan mengusulkan kepada Bupati Temanggung untuk segera dilakukan pertemuan antara Balai Arkeologi, BP3, dan Pemkab Temanggung untuk membahas penyelamatan situs tersebut." katanya.

Ia mengatakan, karena situs berada di lahan penduduk dan dimanfaatkan untuk mencari nafkah, tentu harus diperlukan pendekatan terhadap mereka.

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Kamis, 15 Maret 2012

Sejarah Letusan Gunung Sindoro




TRIBUNNEWS.COM,JOGYA - Gunung Sindoro yang berada di Kabupaten Temanggung dan Wonosobo mengeluarkan asap berbau yang dan terdengar suara letupan. Asap belerang tersebut saat ini telah tersebar di Sembilan titik di kawasan puncak.
Kepala BKPH Temanggung Perum Perhutani KPH Kedu Utara, Juni Junaedi saat dihubungi Tribun Jogja, Selasa (15/11/2011) menjelaskan, sebenarnya aktifitas tersebut sudah ada sejak hari Minggu (14/11/2011), namun masyarakat baru mengetahuinya dan mendengar letupannya di dasar puncak pada Senin (14/11/2011) pukul 18.30 WIB
Menurutnya, Gunung Sindoro setinggi 3.150 meter dpl dan merupakan gunung volkano aktif  sudah lama tidak terlihat aktifitas vulkanologinya, sehingga masyarakat mengira bahwa gunung tersebut sudah tidak aktif lagi.
“Nanti malam jam 00.00, rencananya kita akan naik ke puncak melihat langsung lokasi bersama masyarakat dan pihak Muspika Kecamatan Kledung,” kata Juni.
Juni mengungkapkan, sebenarnya pada pertengahan bulan Oktober 2011 saat sedang ramai ada orang Singapura yang hilang itu, sudah ada dari pihak pusat Geologi Bandung yang naik untuk memasang alat pendeteksi aktifitas kegempaan.
“ Sayangnya memang tidak terpublikasi, sehingga masyarakat tidak mengetahuinya,” ujarnya.
Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat (Linmas) Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Temanggung, Eko Suprapto, mengatakan, semburan asap pada gunung yang berstatus normal-aktif ini baru pertama kali terjadi sejak puluhan tahun lalu.
"Kami telah menempatkan empat orang personel search and rescue (SAR) untuk mengamati kondisi Gunung Sindoro. Kami belum tahu apakah semburan itu masih wajar atau tidak. Soalnya personel kami belum turun untuk memberikan laporan," katanya.
Gunung Sindoro sendiri, dalam sejarahnya pernah mengalami letusan, namun sebagian besar berjenis ringan sampai sedang (freatik).

 Laporan Wartawan Tribun Jogya, M Nur Huda


 
 
Sejarah Letusan

Sejarah mengenai letusan yang terjadi di Gunung Sindoro tidak banyak diketahui, namun letusan baru mulai tercatat sejak Abad ke-19. Berikut ini adalah daftar letusan maupun peningatan aktivitas vulkanik Gunung Sindoro yang terjadi sejak Abad ke-19 Masehi :

1806? : Letusan di puncak gunung. Masih disangsikan kebenarannya.
1818 : Terjadi letusan abu yang menyebar hingga Pantai Pekalongan. Bulan tidak diketahui.
1882 : Terjadi letusan abu di Gunung Kembang. Abunya jatuh hingga di Kebumen. Antara 1-7 April kemungkinan terjadi leleran lava di lereng barat laut.
1883? : Peningkatan aktivitas vulkanik. Kemungkinkan terjadi letusan pada bulan Agustus.
1887 : 13-14 November. Terdengar suara ledakan.
1902 : 1-25 Mei. Kegiatannya terbatas pada bualan lumpur dan lontaran batu pijar yang jatuh kembali di lubang letusan.
1903 : 16-21 Oktober. Letusan di rekahan kali Prupuk di atas Gunung Kembang, di antara ketinggian 2850-2980 meter (letusan samping). Hujan abu sampai di Kejajar dan Garung.
1906 : 22 September-20 Desember. Letusan di rekahan S1 dan terbentuknya K5 di selatan dataran pasir Z1. Pada 25 September, terjadi hujan abu di Kledung. Tanaman banyak yang rusak, rumah penduduk terbakar.
1908 : 10 Februari. Peningkatan aktivitas vulkanik. Terdengar suara gemuruh.
1910 : Januari. Peningkatan aktivitas vulkanik. Di Temanggung kadang-kadang terdengar suara gemuruh.
1970 : Setelah beristirahat selama kurang lebih 60 tahun, terdapat lagi kenaikan aktivitas vulkanik tanpa menghasilkan suatu letusan. Adapun urutannya adalah sebagai berikut :

21 Oktober kira-kira pukul 05.30 dan pada 28 Oktober kira-kira pukul 06.30, terasa bumi bergetar di Kampung Sigedang di lereng barat laut, kurang lebih 4,5 km jauhnya dari puncak.
29 Oktober. Mulai tampak asap putih tipis mengepul dari lubang letusan lama.
1 November. Kira-kira pukul 06.00, tampak asap putih tipis lurus mengepul ke atas.
2 November. Pada pagi hari kira-kira pukul 06.00 Tampak asapnya menebal. Antara pukul 09.00 hingga 14.00 terdengar suara blazer.

Di malam hari tampak asap berwarna merah di atas Gunung Sindoro, kemudian di siang hari asap putihnya menipis kembali.

Hamidi dan Hadian (Juni 1973), telah melakukan pendakian puncak, demikian pula Reksowirogo, tetapi tidak tampak bekas peningkatan aktivitas vulkanik tersebut.

Karakter Letusan

Dari sejarah dan endapan hasil letusannya, diperkirakan letusan tipe strombolian mendominasi karakter letusan Gunungapi Sindoro

Sabtu, 10 Maret 2012

"BERITA ORANG HILANG"



‎"BERITA ORANG HILANG"

IDENTITAS:
NAMA : SUKIJO
NAMA PANGGILAN : KOYIN
UMUR : 25 TAHUN
ALAMAT : RT. 003 RW. 002 DUSUN LIYANGAN, DESA PURBOSARI, KECAMATAN NGADIREJO, KABUPATEN TEMANGGUNG.
TINGGI BADAN : 169 cm
KULIT : SAWO MATANG

CIRI-CIRI:
- TIDAK BISA BICARA (BISU)
- BISA MENDENGAR
- MENGALAMI KETERBELAKANGAN MENTAL
- SUKA MEMBATU PEKERJAAN ORANG LAIN

SUKIJO ALIAS KOYIN TERAKHIR DIKENALI MENGENAKAN "JAKET WARNA PUTIH, CELANA WARNA GELAP DAN MEMAKAI SANDAL".

KOYIN DINYATAKAN HILANG KETIKA MENYAKSIKAN PERTUNJUKAN KESENIAN DI DUSUN MUNDING, DESA KUNDISARI, KECAMATAN KEDU, KABUPATEN TEMANGGUNG, PADA TANGGAL 06 MARET 2012 HINGGA PUKUL 23.00 WIB DAN BARU DIKETAHUI DAN DIYATAKAN HILANG PADA PAGI HARI SETELAH PERTUNJUKAN TERSEBUT.

BAGI YANG MELIHAT ATAU MENNGETAHUI KEBERADAAN ORANG TERSEBUT BISA LANGSUNG MEMBERITAHUKAN MELALUI :

085 729 761 890 [NUGROHO KOMLAT]
082 136 318 814 [FAHRODIN/TAMBAH (ORANG TUA KOYIN)]
INFORMASI SEPUTAR SINDORO ( http://www.facebook.com/groups/pantausindoro/ )
ATAU BISA MELALUI RADIO VHF PADA FREQUENCY 14.835.0 MHz Dup. +100 ( RPU. BAMBU RUNCING )
 


Penambangan Galian C di Dusun Liyangan Desa Purbosari Kecamatan Ngadirejo


Rupanya Penambangan Galian C di Dusun Liyangan Desa Purbosari Kecamatan Ngadirejo MASIH BEROPERASI...
Apakah hal ini perlu dilanjutkan????
Apakah dampak yang akan terjadi jika hal ini berkelanjutan...?
Sadarkah kita bahwa akan ada generasi baru dalam kehidupan kita yang memerlukan naungan diwaktu yang akan datang??
Ataukah akan kita habiskan saja sumber daya alam ini dan kita sudahi saja rantai kehidupan sampai disini???
Hanya kita sendirilah yang bisa merubah atau memperbaikinya....
Pagi....
Mendung berkabut
Oleh: Lukito Hsg
 ·  ·  · 11 jam yang lalu · 

Statistik Pengunjung