Gunung Sindoro Masih Terus Keluarkan Energi

.
Gunung Sindoro Masih Terus Keluarkan Energi
Tribun Jateng - Selasa, 10 Januari 2012 18:02 WIB
|
gunung-sindoro.jpg
Laporan Reporter Tribun Jogya/ M Nur H

TRIBUNJATENG.COM TEMANGGUNG,- Gunung Sindoro yang statusnya telah dinaikkan dari aktif normal menjadi waspada sejak 5 Desember 2011 lali, hingga kini status gunung dengan ketinggian 3.150 meter dpl ini masih tetap waspada. Bahkan akhir-akhir ini cenderung terus mengeluarkan energi, ditandai dengan lebih banyak gempa embusan dari pada aktivitas lain.

Petugas Pos Pengamat Gunung Sindoro dan Sumbing di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Yuli Rahmatullah mengatakan, gempa embusan saat ini memang lebih mendominasi aktivitas Gunung Sindoro, bahkan pada Senin (9/1) tidak terjadi aktivitas lain kecuali gempa hembusan.

Hal ini berbeda dengan aktivitas sebelumnya yang sempat terjadi gempa vulkanik beberapa minggu lalu, namun kembali menghilang. "Berdasarkan catatan seismograf, pada 9 Januari 2012 terjadi 13 kali gempa embusan, sedangkan aktivitas lain seperti gempa vulkanik maupun tektonik tidak muncul," katanya.

Yuli juga mengatakan, dengan adanya aktivitas berupa embusan, ini menandakan gunung tersebut mengeluarkan energi dari dalam. "Semakin banyak embusan berarti semakin banyak energi terbuang," katanya.

Selama ini, katanya, hasil embusan berupa asap sulfatara yang mengepul di puncak Sindoro hampir tidak pernah terpantau dari pos pengamatan karena relatif tipis dan tekanan yang ada tidak terlalu kuat. Sementara, PVMBG Bandung telah merekomendasikan bahwa batas aktifitas masyarakat dari puncak adalah dua kilometer.

"Karena asap tipis maka ketika tertiup angin akan hilang. Selain itu, kami tidak bisa memantau kondisi puncak karena sering terhalang kabut," katanya.

Ia mengungkapkan, pada Selasa sekitar pukul 09.00 kemarin, memang ada laporan dari masyarakat Sibajak di lereng utara Sindoro bahwa mereka melihat kepulan asap di puncak Sindoro.

"Namun, kami tidak mengetahui ketinggian kepulan asap tersebut, karena asap juga tidak bisa terpantau dari pos pengamatan yang berada di lereng timur Sindoro ini karena terhalang kabut," katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), M Hendrasto saat dihubungi mengatakan, gempa dangkal dan dalam pada Gunung Sindoro sudah relatif berkurang. Namun PVMBG belum akan menurunkan statusnya. "Evaluasi status Sindoro akan kami bahas dalam selama sepekan ini," katanya.

Saat ini, lanjut Hendrasto, Gunung Sindoro aktivitasnya cenderung di permukaan ditandai dengan keluarnya gempa-gempa hembusan di area kawah. Hembusan tersebut merupakan pelepasan energi yang kemungkinan berasal dari suplai-suplai energi sebelumnya yang masih tersimpan.

PVMBG juga mengingatkan, bahwa potensi letusan freatik dan semburan uap air panas masih bisa terjadi, terlebih di musim hujan. Pemanasan sebelum semburan bisa berlangsung cepat akibat rembesan air yang masuk ke dalam kawah. Hal tersebut yang melandasi PVMB belum berani mencabut sterilisasi area dua kilometer dari puncak.

Ia juga menandaskan bahwa penurunan status ini akan diterapkan apabila gempa vulkanik yang ada di dalam perut gunung ini sudah berkurang. “Kalau jarang terjadi gempa vulkanik dangkal kemungkinan baru diturunkan menjadi normal," katanya.(had)

Editor : budi_pras

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung